Senin, 23 Agustus 2010

SEJARAH PEMERINTAHAN DI KOTA BANGUN

Dalam pemerintahan Kerajaan Kutai Martapura dari tahun, 350-1605, yg beribukota di Muara Kaman, Kota Bangun diketahui bahwa wilayahnya bernama NEGERI PAHA meliputi daerah : KEHAM., KEDANG DALAM, KEDANG IPIL, LEBAK MANTAN, LEBAK CILONG.

Negeri ini setingkat Propinsi dipimpin seorang Mangkubumi (Adipati Wilayah), suku ini disebut Suku Kutai Kedang (Orang Adat Lawas) adapun pimpinannya berigelar Sri Raja (Raja Kecil) dan Sri Raja terakhir bernama Sri Raja TALIKAT merupakan kerabat Raja di Muara Kaman, dan memerintah di ibukota Keham sampai sekarang masyarakat Adat Lawas masih mendiami daerah tersebut diatas.

Dalam pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara beribukota di Kutai Lama/Jembayan dan Tenggarong, dari tahun 1605-1900 setatus Kota Bangun mengalami perubahan bahwa wilayahnya disebut wilayah Kesutaan dan Ibukotanya berada di Muara Sungai Kedang Murung disebut Telok Gelumbang, dan batas kampong pada waktu itu sampai ke Tanah Pindah adapun SUTA pertamanya bernama SUTA SRI BANGUN adalah kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara dan seterusnya bahwa suta yang terakhir bernama RONGGE gelar SUTA KANAN, wilayahnya meliputi : PELA, KEDANG DALAM, KENOHAN, LEBAK MANTAN, KEDANG IPIL, LEBAK CILONG, LIANG, KEHAM, SEBEMBAN, KUYUNG, ENGGELAM, MA-UWIS.

Asal usul penduduk Suku Kutai Kedang yang mendiami wilayah Kota Bangun dan sekitarnya berasal dari rupun Ras Duentro Malay, yaitu percampuran suku Kutai Pantun dan dayak Benuaq-tonyooi (Benuaq-Tunjung) di Keham asal dari Sungai Ohong, yang menjadikan logat bahasa Suku Kutai Kedang mengalunkan Nada yang bergelombang.
Misalya bahasa Indonesia “Tidak”, Bahasa Kutai “Endik”, Bahasa Kutai Kedang “Inde”………tegas alas gelombang……………………….

Dalam tahun 1900-1940, Kota Bangun menjadi Wilayah Districe Hoofd dalam Jaman Penjajahan Belanda, Ibukotanya Bernama Kota Bangun pimpinannya diberi Jabatan Kepala Districe, pertamanya bernma Aji Pangeran Bendahara (1900-1903) dan Kepala Disterice terakhir bernama Aji Bambang Daut tercatat sebanyak 18 orang yang sempat menjabat kepala districe di Kota Bangun.
Sedangkan dari tahun 1940-1946 wilayah Disterice Hoofd Kota Bangun dijadikan Wilayah Guncho oleh pemerintahan Penjajah Jepang dan Guncho pertaman dijabat oleh Aji Bambang Sjaifoeddin Gelar Aji Raden Tirto Wijoyo (1940-1945) dan digantikan oleh Guncho terakhir bernama Aji Raden Aploes gelar Aji Pangeran Aploes (1945-1946, 

Pada Tahun 1946-1951, Kota Bangun menjadi Wilayah Penjawat dalam pemerintahan Sawabraja Kaltim dan sebanyak 6 orang yang pernah menjabat Kepala Penjawat di Kota Bangun dan yang pertaman bernama Baharoeddin gelar Mas Jaya Poerwonoto (1946) dan Pds. Kepala Penjawat terakhir bernama Mohammad Seman gelar Mas Jaya Muda (1948-1951).

Masa pemerintahan Daerah Istimewa Kutai dan Peralihan Propinsi Kaltim dan Kabupaten Daerah Tingkat II Kutai, Kota Bangun menjadi wilayah Kewedanaan dan sebayak 9 orang yang pernah menjabat Assisten Wedana dari tahun 1952-1966, dan Asisten Wedana pertama bernama Mohammad Syarif gelar Mas Noto Djaya Moeda (1952-1955) dan yang terakhir dijabat oleh Mukidjat dari tahun 1965-1966. pada masa itu Kenohon menjadi Kecamatan terpisah dari Kota Bangun. Dan Kota Bangun pun menjadi Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Kutai sampai dari tahun 1967 dan sekarang 2008 dalam pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara Camat pertamanya Aji Bambang Hassan Basrie (1967-1968) dan sekarang dari 2006- oleh M.Syamsie Juhri,S.Sos.MM. jadi dari tahun 1900 sampai 2008 sebayak 50 orang yang pernah memimpin Kota Bangun. Dan wilayahnya sudah meliputi 20 Desa. Bagaimanapun salah satu catatan kongkrit mengenai pemerintahan di Kota Bangun tertuang dalam sebuah surat dari Resident Der Zuiderent Dester Afdelingen Van Borneo No. 506/C-34-2 tanggal, 11 Maret 1924. sekarang Kota Bangun menjadi Ibukota Kecamatan yang memiliki, Luas wilayah 1.143,74 Km2 dan terdiri dari 20 Desa. Sebenarnya usia Kota Bangun 108 Tahun maka untuk mengenang jasa-jasa para pendahulu, sdra Jemai berinisiatif agar seni budaya di kota bangun jangan sampai hilang, melalui Organizer Multi Pemuda Kutai melaksanakan kegiatan Seni Budaya ini setiap tahun.



Kota Bangun merupakan salah satu permukiman tertua di Kabupaten Kutai Kertanegara, selain itu juga ada daerah Kutai (Kutai Lama), nama kedua daerah ini sudah ada disebut di dalam Hikayat Banjar yang bagian terakhirnya ditulis pada tahun 1663. Kota Bangun merupakan asal daerah Raden Aria Dikara ayahanda Gusti Barap, isteri Panembahan di Darat (mangkubumi dari Sultan Inayatullah).

Misteri Kerajaan Sri Bangun ( di Kota Bangun )

Di tanah hulu memang tidak pernah terlepas dari yang namanya mistik. Seperti di daerah yang satu ini “KOTA BANGUN”, dari namanya mungkin terdengar seperti suatu tempat perkotaan. Tapi anda jangan tertipu dengan nama KOTA BANGUN, karena daerah ini bukanlah KOTA seperti yang anda bayangkan, akan tetapi kota bangun hanyalah nama desa/kampung atau nama salah satu kecamatan di Kukar.

Banyak sekali cerita-cerita mistik di daerah ini, seperti cerita hantu dan lain-lain,  Bahkan tim UKA_UKA dari TPI pun pulang dan tidak jadi mengadakan uji nyali di PLN kota bangun (menurut paranormal dari uka-uka, di situ terlalu berbahaya/ hantunya ganas, maka uji nyali di kota bangun pun di batalkan), karena tidak ingin pulang sia-sia lalu kemudian tim uka-uka pergi ke tenggarong untuk mengadakan uji nyali di Museum Tenggarong. Tetapi ternyata dimuseum juga berbahaya, tahukah anda!!! menurut cerita, setelah pulang dari tenggarong (setelah megadakan uka-uka di museum tengggarong) para normal uka-uka meninggal secara misterius dalam perjalanan ke Balikpapan.

Selain itu di kota bangun ada cerita tentang hilangnya sebuah kerajaan secara misterius, namanya Kerajaan Sri Bangun. Kerajaan ini dulu pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Kutai Martadipura. Kerajaan ini disebut-sebut menghilang secara gaib. Konon dulu pada zaman kerajaan martadipura berkuasa, pihak kerajaan sri bangun tidak mau lagi membayar upeti kepada pihak kerajaan martadipura. Lalu mereka (orang-orang sri bangun) memutuskan untuk mengadakan  upacara (ritual) untuk menggaibkan kerajaan dan orang2 mereka. Sehingga mereka bebas dari kekuasaan kerajaan martadipura.

1.      Misteri Kerajaan Sri Bangun

Sampai sekarang kerajaan Sri Bangun memang masih menjadi misteri bagi para sejarawan dan penduduk kota bangun khususnya. Bagi para sejarawan misteri kerajaan ini mungkin terletak pada minimnya bukti-bukti sejarah guna mengetahui tentang kerajaan ini pada masa lampau. Bagi masyarakat kota bangun misteri kerajaan ini adalah sebuah cerita “peristiwa gaibnya kerajaan Sri Bangun”. Masyarakat kota bangun saat ini masih meyakini/mempercayai keberadaan kerajaan ini sampai sekarang ini, namun keberadaannya ada secara gaib. Kejadiaan-kejadian aneh tentang sri bangun:

  • Beberapa orang yang mengaku pernah melihat kerajan besar dan megah berdiri di sekitar situs kerajaan sri bangun tersebut. Padahal disana hanya ada lahan kosong.
  • Beberapa orang mengaku pernah di dibawa orang gaib masuk ke alamnya, dia menyatakan bahwa dia melihat kota besar dan megah.
  • Beberapa orang yang baru datang berkunjung di kota bangun, menyatakan melihat perkotaan yang besar dan ramai di daerah bekas lapangan pesawat (sebelum memasuki perkampungan kota bangun). Kejadian ini sejak dulu hingga sekarang memang sering terjadi. Seperti beberapa tahun lalu ketika MTQ tingkat kabupaten Kutai Kartanegara di laksanakan di kota bangun.
  • Di desa kedang murung dulu sering terjadi penampakan mobil yang berwarna kuning lewat melintasi jembatan kedang murung. Mobil tersebut diyakini masyarakat kedang murung sebagai mobil milik orang sri bangun (orang gaib).
  • Pernah kejadian seorang pengantar mobil truk ke kota bangun. Orang tersebut mengantar truk pesanan dari samarinda ke kota bangun sebanyak 10 truk (katanya mobil truk itu dibeli oleh warga kota bangun). Setelah mengantar truk tersebut, kemudian dia singgah di salah satu warung yang di kota bangun, pemilik warung tersebut bertanya: “anda dari mana mas??”. Saya dari samarinda, saya kesini tadi habis ngantar truk pesanan orang,  Jawab pengantar tersebut. “siapa yang memesan truknya mas??” Oh.. itu orang di atas (di gunung sekitar bekas lapangan pesawat), di atas rame sekali kota nya ya.., ungkap pengantar tersebut. Padahal di situ tidak ada rumah sama sekali (hanya lahan kosong). Banyak lagi kejadian serupa seperti di atas sampai saat ini. Seperti pemesanan sepeda motor dll.

Tahukah anda!! Percaya tidak percaya, beberapa orang di kota bangun ada yang bersahabat dengan orang gaib bahkan ada yang kawin dengan orang gaib sampai menghasilkan anak pula. Bahkan anak mereka yang gaib ini sekolah di sekolah-sekolah di alam nyata alam kita. Dan ada yang sampai ke perguruan tinggi seperti Unmul dan lain-lain. Ketika orang-orang gaib ini melakukan transaksi dengan manusia maka mereka akan berubah seperti manusia biasa. Oleh karena itu mereka bisa berbelanja dan bersekolah di alam kita.
BELIEVE IT OR NOT !!!

Senin, 16 Agustus 2010

Balian Supinah: "Biarlah Saya Tidak Masuk Surga"

Siang itu, perjalanan darat dari Tenggarong (Kutai Kartanegara) menuju Kuntap, sebuah desa  kecil tempat pemukiman Dayak Benuaq dan Tunjung, sedikitnya membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam. Jalan aspal yang kurang begitu halus dan berdebu, melintasi perbukitan dengan penuh tikungan tajam menyebabkan perjalanan tidak mungkin dipercepat. Di desa itulah Supinah, seorang dukun balian tinggal di sebuah rumah kecil persis di pinggir jalan poros desa, dan hidup sangat sederhana. Dengan pakaian apa adanya, ia menerima Srinth!l dengan sangat ramah, penuh humor, dan menyajikan cerita panjang lebar tentang dunia balian maupun tentang dirinya sebagai seorang dukun dan kaitannya dengan dunia luar (agama resmi dan negara).

Supinah (43 thn) yang telah mengalami dua kali perkawinan memiliki 7 orang anak, seluruhnya dari suami kedua. Meski kakek-neneknya adalah penganut  Kaharingan yang patuh, kedua orang tua Supinah telah memeluk Islam, dan mungkin karena itu Supinah menikah (pertama) dengan seorang muslim dari kalangan Muhammadiyah, sebuah varian yang oleh Supinah sendiri – dan umumnya orang Dayak di Kuntap – dikategori Islam baru. Selama menjadi istri seorang muslim Muhamadiyah, ia mengaku menganut Islam, meski tidak pernah konsisten dengan ajaran-ajaran seperti shalat dan puasa.

Kini, ia hidup bersama suami kedua yang menikahinya 1973 yang lalu. Sebagian dari 7 anaknya telah menikah dan tinggal di tempat lain. Rumahnya yang diapit oleh dua gereja “Kemah Injil Indonesia” yang berdekatan dan suaminya yang patuh menganut Kristen mengesankan bahwa Supinah adalah bagian dari komunitas gereja. Tetapi, ternyata, seperti yang diakuinya berkali-kali, ia tidak menganut agama Kristen apalagi Islam. Baginya, agama tidak lebih dari sebuah baju yang diperlukan untuk menutup badan; kapan saja berganti atau tidak sama sekali memakai tidaklah  menjadi soal. 

Ia pernah menganut Islam (lama) dan pernah pula menganut Kristen selama kurang-lebih 9 tahun. Tetapi setelah itu, ia meninggalkan sama sekali dan memilih tidak beragama. Suaminya (seka-rang) membebaskan memilih dan menganut Kristen, persis seperti halnya ia mem-bebaskan anak-anaknya untuk menganut agama tertentu; sebagian menganut Kristen dan sebagian lain menganut Islam. Supinah tampak bukan saja tidak terbebani, malahan justru merasa bangga dengan pluralitas agama yang dianut keluarganya.       

Sebagai seorang balian, ia tampak sangat longgar, cair, dan moderat dalam memandang dan menyikapi apapun yang hadir dari luar. Ia menerima dengan baik dan apresiatif terhadap siapapun yang datang meminta bantuan pengobatan. ”Kalau yang datang orang Kristen, syarat untuk upacara pengobatannya terdiri dari 5 ekor babi, 5 ekor ayam (puitih, merah, dan hitam), nasi, dan daun kelapa. Sementara kalau yang datang adalah seorang muslim, babinya dihilangkan. Demikian pula tempat pengobatan, biasanya kalau Kristen di Lamin, sedangkan kalau muslim di rumah ini,” jelasnya kepada Srinth!l. Ia juga tidak pernah memasang tarif bagi jasa pengobatannya. Tetapi, ia mengakui, biasanya orang memberi  antara Rp. 20 ribu sampai Rp. 100 ribu untuk sekali pengobatan, belum termasuk biaya upacara yang harus dipikul si pasien.  

Supinah juga menceritakan bahwa mantra-mantra yang digunakan bersumber dari agama. Proses penyembuhan dalam balian, menurut Supinah, berkaitan bahkan bergantung pada 40 malaikat dan 40 nabi, tergantung apa penyakitnya, karena masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Nabi Muhammad, misalnya,  adalah nabi untuk meminta obat penawaran, sementara Nabi Isa untuk meminta air untuk kesehatan. Bahkan Supinah mengakui bahwa ayat kursi juga sering dipakai sebagai mantra dalam balian dalam mengobati penyakit tertentu.  

Supinah yang telah 20 tahun menjadi dukun balian mengakui bahwa untuk menjadi seorang balian, seperti yang dialaminya, tidak segampang membalik tapak tangan. Ia harus hafal silsilah para Sangiang (theogony) dan manusia, sejarah suku, hukum-hukum adat, sejarah alam semesta, dan lika-liku perjalanan para roh sampai tiba di negeri asal-usul para leluhur. Menjadi seorang balian merupakan panggilan Illahi. Salah satu tanda bahwa seseorang telah dipilih oleh Sangiang untuk menjadi balian adalah Sangiang masuk ke dalam tubuhnya sampai ia mengalami trance. Sangiang inilah yang menuntun untuk bisa menghafal tentang silsilah, sejarah, hukum-hukum, dan peristiwa-peristiwa suci walau harus dilakukan berhari-hari.

Balian yang bergaya hidup sederhana ini mengaku telah banyak menyembuhkan penyakit yang menimpa penduduk di berbagai tempat di Kutai Kartanegara khususnya. Ia merasa puas dengan itu, dan ingin tetap menjadi balian selamanya. Meski konsistensi itu harus ditebus dengan  berbagai rintangan. “Pernah saya di maki-maki oleh beberapa ulama dan pendeta atau pastur yang menganggap balian sebagai praktik kekafiran. Bahkan saya juga sering dipanggil polisi karena dianggap tukang tenung dan santet,” kisahnya tanpa ragu. “Biarlah saya begini, terus menjadi balian. Biarlah pula saya tidak memeluk agama. Dan biarlah saya tidak masuk surga karena itu semua,” tandasnya sambil tersenyum.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Kerajaan Sri Bangun Kerajaan Bercorak Budha

Kota Bangun terletak sekitar 88 Km dari Tenggarong Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara, terletak di sisi kiri mudik Sungai Mahakam. Merupakan sebuah daerah yang memiliki sejarah peradaban lama. Bekas wilayah Kerajaan Sri Bangun dengan Rajanya yang paling terkenal bernama Qeva.

diperkirakan merupakan negeri bawahan dari Kerajaan Martadipura, namun berbeda dengan Martadipura yang Hindu, Kerajaan ini malah menunjukkan corak sebagai Kerajaan Budha dengan ditemukannya beberapa peninggalan seperti Arca Budha Pengembara dari Perunggu, dan Patung Lembu Nandi yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Singa Noleh.

Keberadaan Patung Lembu Nandi itu terletak di sebuah dataran tinggi yang berhadapan langsung dengan Sungai Mahakam, di mana pada arah Ulunya ada sebuah Danau yang bernama Kedang Murung kawasan ini sekarang dikenal sebagai Situs Sri Bangun.

Strategisnya Situs Sri Bangun ini juga dimanfaatkan Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin, sebagai wadah pengungsian ketika kalah perang melawan Pasukan Belanda pada tahun 1844. Ditempat itu Sultan bersama keluarga dan mentrinya beserta Ratusan Pengawal membangun kubu pertahanan serta beberapa istana sementara.

Situs Sri Bangun ini hingga sekarang tetap di keramatkan penduduk Kutai Kartanegara, karena dipercaya Kerajaan Sri Bangun yang memang misterius tersebut, hingga kini masih ada secara gaib. Banyak warga yang telah melihat bayangan Istana megah di wilayah pada waktu-waktu tertentu, terkadang pula ditemukan beberapa lelaki dan wanita misterius yang apabila diikuti menghilang begitu saja.

TAJAU KUYANG DI TUANA TUHA

Soal mistis bukanlah asing di telinga masyarakat Kalimantan Timur, apalagi mereka yang berdiam di alur sepanjang pedalaman Sungai Mahakam. Kalau di Bali, manusia jadi-jadian ada yang disebut Leak. Begitu juga dengan daerah Sulawesi Tengah ada pula yang disebut Popo. Namun di Kaltim walau hakikatnya sama tetapi sebutannya berbeda yaitu Kuyang.

KUYANG adalah salah satu mahluk jadi jadian dari sekelompok manusia yang menganut ilmu hitam tertentu. Belum lagi ilmu-ilmu hitam semacam kesaktian menghancurkan lawan atau orang yang tak disuka melalui angin misalnya dengan sebutan “Parang Maya, Panah Terong, Racun gangsa, Perakut, Putting Belayung,” dan lain sebagainya.

Kebanyakan aliran ilmu dan penganut hitam ini dibawa sejak jaman Hindu Kaharingan, yaitu sejak keberadaan Kerajaan Kutai Mulawarman. Dahulu ketika terjadi peperangan dengan pihak Kerajaan Kutai Kartanegara, Orang-orang Kutai Mulawarman melakukan perlawanan selain secara fisik juga adu ilmu kesaktian melalui berbagai hal mistik. Banyak orang Kutai Kartanegara yang hampir kewalahan menghadapi ilmu-ilmu hitam orang-orang Kutai Mulawarman. Namun karena di Kutai Kartanegara banyak pula yang memahami akan ilmu hitam tersebut, maka terjadilah adu kekuatan yang seru. Namun karena jelas Kutai Mulawarman telah kalah dalam berperang maka sedikit demi sedikit para penganut aliran hitam ini mulai berkurang dan melarikan diri keberbagai daerah di pedalaman.

Orang-orang Mulawarman tersebut lari keberbagai daerah di pedalaman seperti daerah Sabintulung, Menamang, Wahau, Kombeng, Kota Bangun, Kahala, Belayan, Genting Tanah, dan Tuana Tuha. Daerah yang disebut terakhir inilah yang merupakan daerah tempat para penganut aliran hitam yang disebut hantu Kuyang bertahan. Di daerah ini orang tidak bisa sembarang bicara apalagi berkata “pongah”.

Kalau juga berani, artinya dia tentu punya simpanan atau isi yang juga tangguh. Karenanya bila kita singgah di daerah tersebut ada saja orang atau penduduk yang bertanya. “Banyakkah sangu yang kita bawa..?“ Pertanyaan tersebut bukan bermaksud mempertanyakan bekal yang kita bawa, tetapi lebih dimaksud bekal ilmu atau pertahanan mistik. Siapapun yang mengaku atau menjawab “Ya, bekal yang saya bawa cukup,” maka ujungnya tunggulah pada senja hingga malam harinya. Tanpa ampun berdatangan kiriman angin jahat yang mampu membunuh dia. Dapat dibayangkan, kalau kita pergi menamu di rumah penduduk, salah mata atau salah bicara, tampa sadar “anunya” (alat kelamin) kita bisa berada atau bertengger di dinding rumah. Oleh mereka hal tersebut hanyalah disebut main-mainan.

Namun demikian cerita ini adalah cerita tempo doeloe, yang jika sekarang ini sudah jauh berbeda karena dilanda kemajuan zaman yang kian berganti. Tetapi walau demikian, menurut cerita, soal penganut aliran tersebut masih bisa ditemukan di daerah yang disebut Tuana Tuha yaitu daerah yang letaknya di sungai belayan, tidak begitu jauh dari Kota Bangun. Sekarang, menurut kabar yang masih dominan adalah penganut aliran Hantu Orang atau “ Kuyang.“

Masalahnya yang disebut Kuyang ini bisa beranak pinak dan turun menurun. Mereka adalah manusia biasa yang dalam kesehariannya tidak beda dengan masyarakat umum bergaul dan berbaur. Bedanya kalau hari telah malam. Mereka penganut aliran ini mulai melakukan aktifitasnya selaku hantu kuyang, yang oleh masyarakat tertentu juga disebut sebagai ”penanggalanan”. Kalau yang disebut “Hantu Orang,” mereka bisa menghilang atau terlihat sesuka hati mereka. Untuk tak terlihat jelas, mereka jika berjalan selalu berbalik rambut menutupi wajah. Kerjanya mencari orang yang hendak melahirkan. Jika bertemu, maka orang tersebut akan dihisap darahnya sampai mati. Dan apabila ada orang yang mati beranak, secara umum masyarakat pasti menjaga kuburan orang yang meninggal. Karena apabila tak dijaga, maka kuburan itu bisa terbongkar dan mayatnya hilang atau raib entah dibawa kemana.

Lain lagi halnya dengan yang disebut “ Hantu Kuyang”. Kuyang ini tidak berjalan dengan badan yang utuh. Mereka selalu menyembunyikan badan mereka di balik pintu, atau di belakang lemari, atau di samping ranjang yang terlindung kelambu, atau dimana saja yang bisa dijadikan tempat berlindung. Setelah badannya bisa disembunyikan, kepala-kepala mereka lalu tercabut meninggalkan badan mereka dengan isi perut terburai dan ikut terbang keluar rumah. Mereka berterbangan dari rumah ke rumah mencari orang baru meninggal atau hendak melahirkan. Kerja dan sifatnya sama dengan hantu orang.

Menurut cerita, darah orang yang akan melahirkan itu rasanya amat manis bagaikan madu. Lalu jika dalam beberapa hari mereka tidak mendapatkan mangsa mereka akan menjadi ganas dan kesakitan serta kehausan tak terkira. Tetapi jika sudah mendapatkan darah atau kuburan baru barulah tubuh mereka menjadi segar dan tak lagi merasa dahaga.

Orang-orang penganut aliran hitam ini jika melahirkan anak, mereka selalu membawa anak mereka kes uatu tempat dimana terdapat sebuah gentong atau tajau. Disini si anak yang masih kecil dimasukkan ke dalam muara tajau tersebut berkali kali sambil membaca mantera anak Dengan demikian anak tersebut telah menjadi anggota keluarga mereka. Gentong tersebut diberi nama “Tajau Kuyang“ dan terletak di sebuah hutan di antara kampung Tuana Tuha dan Genting Tanah.

Hingga kini “Tajau Kuyang “ tersebut masih bisa ditemukan. Tak ada seorangpun yang berani mengusik apalagi memindahkan atau menghancurkan tempat tersebut. Memang kabarnya dahulu ada yang mencoba melakukan pencurian terhadap benda tersebut. Kenyataannya si pencuri ditemukan penduduk mati dengan mata melotot dan lidah terjulur bagai tercekik. Semenjak itulah tak ada lagi orang ada yang berani mengusik benda tersebut sekalipun dia adalah maling mandraguna. Tidak dijelaskan asal-usul dari mana benda tersebut didatangkan. Begitu pula siapa yang meletakkannya ditempat itu. Yang jelas umurnya tentu telah ratusan tahun.

Sedang pemujaan dilakukan setiap malam Kamis oleh suara-suara dan bayangan gaib yang tak bisa dikenali siapa saja orangnya. Yang jelas pemujaan tambah ramai jika pada waktu bulan purnama yang bersinar terang. Walau demikian tak ada orang yang berani datang mendekat ke tempat tersebut. Terkecuali orang yang tak tahu atau karena dikehendaki oleh mahluk-mahluk yang sedang melakukan pemujaan.

Pernah sekali ada orang yang mengalami terbawa ke dalam acara pemujaan tersebut. Di sana dia melihat banyak orang yang sedang melakukan pemujaan berjalan berkeliling memutari “Tajau Kuyang“ dengan semuanya berpejam mata. Setelah itu apabila lewat tengah malam, mereka lalu berpesta. Di sini dia melihat hampir keseluruhan dari pemuja tersebut adalah wanita yang rata-rata sangat cantik. Dalam pesta si orang tadi diberi berbagai makanan dan minuman yang lezat hingga mabuk. Ternyata setelah sadar, orang ini tersandar pada sebatang pohon yang tak jauh dari tempat di mana terdapat “Tajau Kuyang“ itu.

Percaya tidaknya cerita ini memang adalah merupakan cerita yang berkembang di masyarakat terutama masyarakat di daerah Tuana Tuha dan Genting tanah. Soal “Tajau Kuyang” secara pasti dinyatakan memang masih ada dan tak ada siapapun yang berani mengusiknya. Nah,..! jika ada di antara anda yang mempunyai nyali atau penasaran, silakan coba dan datang ke daerah tersebut. Tentu penduduknya akan menyambut dengan ramah dan mengantarkan Anda ketempat tujuan. Silakan mencoba….!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More