Selasa, 07 September 2010

Mandau (senjata tradisional kalimantan)






Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya pulau ini tidak hanya merupakan “daerah asal” orang Dayak semata karena di sana ada orang Banjar, Kutai, Berau, Tidung dan orang Melayu. Di  kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, ke mana pun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol seseorang (kehormatan dan jati diri). Sebagai catatan, dahulu mandau dianggap memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti: perang, pengayauan, perlengkapan tarian adat, dan perlengkapan upacara.
Mandau dipercayai memiliki tingkat-tingkat keampuhan atau kesaktian. Kekuatan saktinya itu tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga dalam tradisi pengayauan (pemenggalan kepala lawan). Ketika itu (sebelum abad ke-20) semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, maka mandau yang digunakannya semakin sakti. Biasanya sebagian rambutnya digunakan untuk menghias gagangnya. Mereka percaya bahwa orang yang mati karena di-kayau, maka rohnya akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti. Namun, saat ini fungsi mandau sudah berubah, yaitu sebagai benda seni dan budaya, cinderamata, barang koleksi serta senjata untuk berburu, memangkas semak belukar dan bertani.
Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan. Berbeda dengan parang, mandau memiliki ukiran-ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.
Bahan baku mandau adalah besi (sanaman) mantikei yang terdapat di hulu Sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Kecamatan Sanaman Matikai, Samba, Kotawaringin Timur. Besi ini bersifat lentur sehingga mudah dibengkokan.
Struktur Mandau
1.      Bilah mandau
Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar). Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Ada beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.
Pembuatan bilah mandau diawali dengan membuat bara api di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi. Kayu yang digunakan untuk membuat bara api adalah kayu ulin. Jenis kayu ini dipilih karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Setelah kayu menjadi bara, maka besi yang akan dijadikan bilah mandau ditaruh di atasnya agar memuai. Kemudian, ditempa dengan menggunakan palu. Penempaan dilakukan secara berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk bilah mandau yang diinginkan. Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau. Konon, pada zaman dahulu banyaknya lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut. Cara membuat hiasan sama dengan cara membuat bilah mandau, yaitu memuaikan dan menempanya dengan palu berulang-ulang hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda.
2.      Gagang (Hulu Mandau)


Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.
3.       Sarung Mandau
Sarung mandau (kumpang) biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.
Nilai Budaya

Pembuatan mandau, jika dicermati secara saksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.

Tewasnya Sumbang Lawing (pemimpin dayak iban)

Setelah kerajaan Kutai Kartanegara mengalahkan kerajaan Mulawarman, wilayah kerajaan Kutai Kartanegara bertambah luas hingga jauh ke daerah-daerah Pedalaman. Di setiap daerah oleh kerajaan Kutai ditempatkan seorang Panglima Sepangan sebagai wakil raja yang berkuasa dalam berbagai hal. Tentu para Panglima ini dibantu pula dengan para senopati dalam melakukan roda pemerintahan di daerah setempat. Sedang raja yang tadinya berada di bawah kekuasaan Mulawarman yang menyerahkan diri tetap berkuasa di daerahnya. Hanya saja segala peraturan yang dijalankan adalah peraturan dari Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Matadipura.

Di seluruh wilayah Mulawarman yang menjadi “taklukan” kerajaan Kutai, keamanannya dijamin oleh pasukan Kutai. Namun demikian kehidupan sehari-hari di daerah tersebut bukanlah seperti jajahan. Mereka bebas berbuat apa saja, sama dengan ketika masih berada di bawah kekuasaan Maharaja Mulawarman. Pajak “taklukan” tak diberlakukan, Kerajaan Kutai hanya mengambil hasil bumi, itupun membeli dari masyarakat. Dengan kata lain tidak melakukan paksa dan rampasan.

Pada waktu itu Kerajaan Kutai dirajai oleh Aji Muhammad Sulaiman yaitu Raja ke 19 yang dinobatkan pada tahun 1850. Pemerintahan berjalan dengan lancar dan masyarakat merasa terjamin kehidupan dan keamanannya.

Tetapi keamanan ini pada suatu ketika jadi terganggu dengan adanya kekacauan dan perampokan terhadap harta benda rakyat di daerah-daerah ulu Mahakam seperti  Long Iram, Melak, Muara Pahu, dan Kota Bangun, oleh segerombolan orang Dayak Hiban dari Serawak  yang dipimpin “ Sumbang Lawing.”  Gerombolan ini berhenti dan bermarkas di  Muara Sungai Belayan, dengan tujuan mencari hari baik untuk melakukan serangan ke ibukota Kerajaan Kutai.
Menurut cerita, Sumbang Lawing ini bertubuh besar dan tinggi serta kebal dengan senjata tajam apapun. Sumbang Lawing jika berkelahi tak pernah berhenti. Datang lima, datang sepuluh, bahkan datang duapuluh, semuanya tewas di tangannya. Menurut cerita senjata “Mendau“-nya saja selebar papan dengan panjang dua meter, sehingga sekali tebas paling sedikit lima orang yang melayang jiwanya.

Sumbang Lawing ini suka pula dengan perempuan. Baik yang masih perawan maupun  sudah bersuami. Wanita mana saja yang dikehendakinya pastilah harus didapatnya. Kalau si suami keberatan, maka tak ayal si suami pastilah menemui ajalnya.  
                     
Konon kabarnya Sumbang Lawing yang dianggap sakti ini mempunyai tempurung kepala terbuat dari tembaga, serta gigi yang penuh dengan emas. Kalau dia lagi menginang (makan sirih) pinangnya terdiri dari Putting Beliung (Kapak kecil) sedang kapurnya terbuat dari kapur gamping.

Keamanan jadi kacau dan beritanya dilaporkan pada Raja Kutai, Aji Muhamad Sulaiman, yang serta merta mengumpulkan para pembesar istana. Aji Sultan meminta masukan dari para Panglima daerah yang pernah dikacaukan oleh Sumbang Lawing. Semua perbuatan disampaikan secara terinci, begitu pula dengan kekebalan dan kesaktian Sumbang Lawing yang hampir tak tertandingi oleh siapapun juga. Namun oleh seorang Pandai  mengatakan kalau Sumbang Lawing itu pematinya hanya ada di mulut bagian langit-langitannya. Kalau di lain jangankan senjata tajam biasa, peluru meriam sekalipun tak akan mampu menembus tubuh Sumbang Lawing. Karenanya percuma saja melawan Sumbang Lawing dengan mengerahkan pasukan sepangan Kerajaan Kutai Kartanegara.

Mendengar ini akirnya dari pada membuang buang waktu dan mengorbankan prajurit, maka dilakukanlah suatu keputusan untuk melawan Sumbang Lawing dengan cara tanpa dengan prajurit yang banyak.

Untuk itu kepada Sultan Aji Muhammad Sulaiman, majulah dua orang abdi dalam bernama  “Ence Hasan“ seorang Guru Silat dan  Awang Temputuq  meminta ijin agar tugas itu diserahkan kepada mereka berdua. Mereka tidak meminta pengawalan prajurit. Yang mereka minta adalah satu buah keris kecil yang sangat beracun bernama “Burit Kang“ dan segendongan kain berwarna warni serta peralatan dagang seperti sisir dan cermin. Keduanya lalu diberi ijin dan dipenuhi segala permintaannya.

Dengan berperahu mereka memudiki sungai dan sampai ke muara Belayan di mana  gerombolan Sumbang Lawing berada. Oleh Sumbang Lawing yang melihat  kedatangan perahu lalu meminta agar mendekat ke perahunya.

“Siapa Kalian..? dan mau kemana..?!“ tanya Sumbang Lawing.
“Kami adalah pedagang kain yang hendak berjualan ke kampung sana,” jawab Ence Hasan, sambil merapatkan perahunya ke perahu Sumbang Lawing.

Sumbang Lawing lalu membuka bungkusan yang dibawa oleh Awang Temputuq. Satu-satu kain tersebut dibukanya hingga habis berhamburan di atas lantai perahunya. Setelah kain hibis, maka terlihatlah sebuah cermin yang terletak di bawah lipatan. Sumbang Lawing yang seumur hidup tak pernah melihat wajahnya melalui cermin. Jadi terpekik ketika cermin itu diarahkan kemukanya.

Dia kaget melihat ada orang berwajah jelek berada di dalam cermin tersebut. Sumbang Lawing lalu bertanya siapakah yang ada dalam cermin tersebut.? Oleh Ence Hassan, dijawab kalau itu adalah cermin dan yang dilihatnya adalah bayangan dirinya sendiri. Melihat ini dia tidak puas berkali kali dia melihat wajahnya di dalam cermin tersebut.

Ahkirnya Sumbang Lawing tertawa melihat wajahnya yang belum pernah dilihatnya. Setiap kali dia melihat wajahnya di dalam cermin dia tertawa terbahak bahak. Saat itulah kesempatan Ence Hassan menghunjamkan keris kecil bernama Burit Kang itu ke langit langit mulut Sumbang Lawing. Dengan terperanjat dan kesakitan Sumbang Lawing meronta dan melompat lompat hingga akhirnya jatuh ke dalam sungai .

Melihat kesempatan ini dengan cepat Awang Temputuk melompat pula ke dalam sungai sambil membawa mendaunya. Karena racun dari keris tersebut Sumbang Lawing jadi tak berdaya dan kekebalannyapun hilang. Dengan cepat  Awang Temputuq memenggal Kepala Sumbang Lawing yang kemudian dibawanya naik kedaratan.

Sedang Ence Hassan bertarung dengan para pengawal Sumbang Lawing. Namun karena melihat Sumbang Lawing tewas, maka tanpa dikomando anak buah Sumbang Lawing berlarian ke dalam hutan dengan cerai berai.

Dalam pertempuran dengan anak buah  Sumbang Lawing tak satupun ada anak buah Sumbang Lawing yang dibunuh oleh kedua ksatria dari Kutai ini. Masalahnya tujuan mereka hanyalah untuk melumpuhkan dan membunuh pemimpinnya. Karenanya  para gerombolan yang lari tak mereka kejar.

Para tawanan wanita dari berbagai daerah yang dibawa oleh gerombolan Sumbang Lawing lalu dibawa ke perahu oleh Awang Temputuq dan  Ence Hassan untuk dipulangkan ke daerah masing masing.

Kepala Sumbang Lawing dibawa ke Tenggarong dan diserahkan pada Aji Sultan Sulaiman sebagai bukti kalau mereka telah mengalahkan musuh yang telah mengacau negeri Kutai Kartanegara Ing Martadipura.  *habis

Sabtu, 04 September 2010

"DAYAK" Pemburu Kepala (The Head Hunter from Borneo)

Kepala hasil buruan yang telah diasap

Jauh di dalam hutan berkabut Borneo, Etnolog Inggris dengan berani memasuki dan pergi dengan parang ditangan terus bergerak melalui kabut tebal untuk memasuki daerah hutan. Parang, senjata tajam pendek yang dirancang untuk bisa ditarik dengan sangat cepat, bagian leher yang di utamakan sebagai titik serangan terbaik. Tapi saat Charles etnolog inggris yg sudah bisa membaur dan menghabiskan hidup di antara masyarakat Kalimantan, sebagai pengamat budaya pulau besar di Asia Tenggara juga bersenjata dengan senjata kolonial yang lebih halus: kamera. yang digunakan untuk mengambil banyak gambar tentang Pemburu kepala di kalimantan.

Galeri dalam rumah dengan tengkorak dan Padaung senjata Dayak, yang jadi pelapis dinding
Photo circa 1900-1930
Sebenarnya, Charles Hose tidak hanya dipersenjatai dengan kamera tetapi juga dengan pena. Ditempatkan di Kalimantan sebagai jaksa selama pemerintahan Kekaisaran Residen Inggris di sana, para peneliti berani merekam semua yang dilihatnya dan menulisnya kedalam bukunya berjudul The Pagan Tribes of Borneo, yang diterbitkan pada tahun 1912, dan ini termasuk sebuah wacana tentang pengajuan: "Jelas bahwa Iban adalah salah satu suku yang menerapkan Pemburu kepala dengan kata lain, yaitu, bahwa Berburu kepala, mengejar sebagai bentuk latihan, "tulis Hose, meskipun ia kemudian mengklaim bahwa "Mereka begitu gembira khususnya para Pemburu Kepala untuk berburu kepala dan tidak ragu-ragu untuk melakukannya dengan cara yang tidak adil."

prajurit longnawan dari Suku dayak pemburu kepala di kalimantan utara
Photo circa 1927
Sebelum kita tersesat dalam kebingungan tentang apa yang dilakukan dan bukan hanya merupakan sebuah olahraga berburu kepala, mari kita membuat jelas bahwa Iban adalah cabang dari Suku Dayak di Kalimantan. Sub-kelompok masyarakat adat Dayak dikenal sebagaiteman di zaman kolonial, di bawah Dinasti James Brooke (1803-1868), raja Sarawak, yang merupakan salah satu negara bagian Malaysia di Kalimantan. alKisah kekerasan dari suku Dayak di Laut Cina Selatan didokumentasikan dengan baik, karena tidak kecil untuk perang budaya mereka sangat agresif terhadap kepentingan perdagangan pendatang dari Barat pada abad ke-19 dan 20. James Brooke dan Raja Melayu tidak memberi tempat sebelum bajak laut tiba, namun, menyerang dan menghancurkan 800 kapal bajak laut. Iban juga menjadi terkenal karena memburu/memotong Kepala musuh, bahkan Mereka dicap sebagai pelopor praktek seperti ini 

Laki laki dari Suku dayak dengan dua kepala di tangan
Photo 1900-1940
Charles Hose mempunyai pemikiran bahwa "mungkin" Iban "mengadopsi [praktek pemotongan kepala] dari beberapa generasi yang lalu hanya ... Kayans atau meniru suku-suku lain di antara mereka yang telah ditlakukan," dan bahwa "pertumbuhan yang cepat dari praktek di antara Iban Tidak diragukan lagi sebagian besar disebabkan oleh pengaruh Melayu, yang telah diajarkan oleh orang-orang Arab dan dari suku lainnya "untuk menyampaikan atau menyalahkan awal kegiatan ini adalah demi tempat/lahan yang diperbutkan antara suku Iban di wilayah ini.banyak daerha yang sudah kelebihan penduduk sehingga memaksa mereka untkuk mengambil tanah dari suku lain dan mempertahankan tanah tersebut dengan nyawa, dan ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan Hidup. 

Tentara Suku Dayak di Kalimantan tengah yang bersiap untuk berperang
Photo 1894
Berburu Kepala juga jelas merupakan bagian penting dari budaya Dayak. balas dendam , berburu kepala untuk ritual tradisi lama terus hidup sampai berhenti dan kemudian secara bertahap bercampur dengan intervensi luar - yaitu, pemerintahan raja Brooke di Sarawak dan Belanda di Kalimantan dalam 100 tahun sebelum Perang Dunia II. Awal, Pemerintah Brooke melaporkan, menggambarkan perang dari orang-orang Iban dan Kenyah - kelompok lain dari suku itu kepada siapa Berburu Kepala adalah sebuah budaya yang penting.



Suku Dayak Mengcukur Rambut di Sesuaikan dengan Kedudukannya
Photo circa 1920
Namun demikian, dengan berburu kepala itu seiring dengan berjalannya waktu,Masih cukup banyak masalah bagi etnolog Inggris Charles Hose untuk mengabadikan suku ini kedalam sebuah Buku untuk sebagai subjek. Hose bahkan melangkah lebih jauh dengan mencari penjelasan atas kebiasaan dan keyakinan yang mungkin sesuatu yang mistis yang mendukung keganasan yang mengerikan ini, dia menawarkan dua teori yang mungkin: "Bahwa praktek dari memotong kepala musuh muncul dan mengambil sebagian dari kepala itu untuk dijadikan hiasan rambut,perisai dan gagang pedang, "dan "Mengambil kepala musuh adalah sebagai tradisi untuk menghormati/melayani roh leluhur agar arwahnya bisa tenang sehingga satu saat sang pemotong kepala mati dia akan disambut leluhur"


Dukun Suku Dayak di kalimantan Barat
keraguan yang ditimbulkan membuat Hose meminta bantuan ulama kontemporer dan terdapat pandangan yang sedikit berbeda pada apa yang dimaksudkan dengan Suku Pemburu kepala. Dalam keyakinan politeisme dan animisme kompleks orang Dayak, memenggal kepala musuh seseorang dianggap sebagai cara yang baik untuk membunuh roh orang yang telah dibunuh. Makna spiritual upacara juga terletak pada keyakinan bahwa memimpin orang mati. Kepala ditampilkan dalam sebuah upacara pemakaman tradisional, di mana tulang-tulang kerabat digali dari bumi dan dibersihkan sebelum dipasang di pemakaman yang aman. dan kepalanya diambil tentu berharga.

Pemimpin Suku Dayak Lengkap dengan Baju Kebesaran
Photo 1900-1940
Mereka adealah salah satu suku terbelakangdan biasa hidup di alam liar jauh dari standar beradab seperti dunia Barat. Selama Perang Dunia II, pasukan Sekutu telah dikenal untuk mengumpulkan tengkorak Jepang mati sebagai piala. Pada tahun 1944 Majalah Life menerbitkan foto seorang wanita muda berpose dengan tengkorak yang dikirim ke Angkatan Laut ditandatangani dengan pacarnya, suatu peristiwa yang menyebabkan kemarahan publik. Di bawah arahan Sekutu, orang-orang Dayak sendiri kembali melawan Jepang dengan melakukan perang gerilya setelah merasakan perlakuan buruk oleh mereka/Jepang. dan tidak kura dari sekitar 1.500 tentara Jepang yang tewas atau tertangkap.





 
sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4064483

Jumat, 03 September 2010

Asal Mula Naga Erau ( upacara mengulur naga )

Upacara Mengulur Naga
Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.

Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.

Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.

Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.

Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.

Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut. "Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda." kata sang putri, "Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah."

Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam. "Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai."

Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.

Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.

Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu. 

Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.***

Asal Mula Erau Kutai

Beluluh
Alkisah, di lereng sebuah gunung di daerah Kalimantan Timur terdapat sebuah dusun bernama Jaitan Layar. Di dusun itu tinggal seorang Petinggi bersama istrinya. Meski sudah menikah puluhan tahun, mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Namun demikian, suami-istri itu tak pernah putus asa. Mereka senantiasa pergi bertapa, menjauhi kerabat dan rakyatnya untuk memohon pada Dewata agar diberi keturunan. Pada suatu malam, ketika mereka sedang tertidur nyenyak, tiba-tiba dikejutkan oleh suara gemuruh di halaman rumahnya. Malam yang semula gelap gulita tiba-tiba berubah menjadi terang benderang, kejadian itu membuat mereka sangat heran. “Pak, coba lihat apa yang terjadi di luar,” kata sang istri.

Dengan memberanikan diri Petinggi Dusun Jaitan Layar keluar dari rumahnya. Ia sangat terkejut melihat sebuah batu raga mas berada di halaman rumahnya. Di dalamnya terbaring seorang bayi laki-laki yang masih merah berselimutkan kain berwarna emas. Tangan kanan bayi itu menggenggam sebutir telur ayam dan tangan kirinya memegang sebilah keris emas.

Petinggi Dusun itu semakin terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya berdiri tujuh dewa. Satu dari tujuh dewa itu berkata, “Berterima kasihlah kamu, karena doamu telah dikabulkan oleh para Dewa.” Kemudian Dewa itu berpesan kepada Petinggi Jaitan Layar, ”Ketahuilah bayi ini keturunan para Dewa di Kahyangan. Oleh karena itu kamu tidak boleh menyia-nyiakannya. Cara merawatnya berbeda dengan merawat anak manusia. Bayi ini tidak boleh diletakkan sembarangan di atas tikar, akan tetapi selama empat puluh hari empat puluh malam harus dipangku secara bergantian oleh kaum kerabat sang Petinggi. Jika kamu ingin memandikan bayi ini, jangan menggunakan air biasa, tetapi harus dengan air yang diberi bunga-bungaan.” Dewa itu juga berpesan kepada sang Petinggi, “Jika bayi ini sudah besar tidak boleh menginjak tanah sebelum diadakan Erau. Pada upacara Tijak Tanah (Menginjak Tanah), kaki anak ini harus diinjakkan pada kepala manusia yang masih hidup dan kepala manusia yang sudah mati. Selain itu, kaki anak ini juga harus diinjakkan pada kepala kerbau yang masih hidup dan kepala kerbau yang sudah mati. Begitu pula jika anakmu hendak mandi di sungai untuk pertama kali, hendaknya kau harus mengadakan Erau Mandi ke Tepian sebagaimana pada upacara Tijak Tanah.”

Bukan main senangnya Petinggi Jaitan Layar mendapatkan anak keturunan para Dewa. “Terima kasih Dewa. Semua perintah Dewa akan hamba laksanakan,” kata sang Petinggi sambil menyembah. Saat itu pula, tiba-tiba ketujuh Dewa tersebut menghilang dari hadapan sang Petinggi. Bayi itu pun segera dibawa oleh sang Petinggi masuk ke dalam rumah. Lalu, sang Petinggi menceritakan kejadian yang baru saja ia alami kepada istrinya. Bukan main senangnya istri sang Petinggi mendengar cerita suaminya, apalagi setelah ia melihat bayi itu. Ia bagaikan bulan purnama, wajahnya tampan tiada banding, tubuhnya sehat dan segar, siapa pun memandangnya akan bangkit kasih sayang terhadapnya.

Beberapa saat kemudian bayi itu tiba-tiba menangis. Sepertinya bayi itu sedang kelaparan. Sang Petinggi pun menjadi bingung, karena payudara istrinya tidak dapat mengeluarkan air susu. Apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang perempuan tua seperti istrinya untuk menyusui seorang anak. Akhirnya, sang Petinggi membakar dupa dan setanggi. Lalu, sambil menghambur beras kuning, ia memanjatkan doa kepada para Dewa agar memberikan karunia kepada istrinya berupa air susu yang harum baunya. Tak lama setelah berdoa, terdengarlah suara dari Kahyangan, “Hai Nyai Jaitan Layar, usap-usaplah payudaramu dengan tangan berulang-ulang sampai terpancar air susu darinya”.

Mendengar perintah itu, istri Petinggi Jaitan Layar segera mengusap-usap payudaranya sebelah kanan sebanyak tiga kali. Tiba-tiba, mencuratlah dengan derasnya air susu dari payudaranya yang sangat harum baunya seperti bau ambar dan kasturi. Bayi itupun mulai menyusu pada istri Petinggi. Kedua suami-istri itu sangat bahagia melihat bayi keturunan Dewa itu telah mendapatkan air susu.

Setiap hari, sang Petinggi dan istrinya merawat anak mereka dengan baik. Sesuai perintah Dewa, mereka senantiasa memandikan bayi itu dengan air yang diberi bunga-bungaan. Tiga hari tiga malam kemudian, putuslah tali pusar bayi itu. Seluruh penduduk dusun Jaitan Layar bergembira. Mereka merayakannya dengan menembakkan Meriam Sapu Jagat sebanyak tujuh kali. Empat puluh hari empat puluh malam bayi itu dipangku penduduk secara bergantian dan berhati-hati. Sesuai petunjuk Dewa dalam mimpi Petinggi, bayi laki-laki itu diberi nama Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Waktu terus berlalu. Kini Aji Batara Agung Dewa Sakti telah berumur lima tahun. Anak seusia Aji tentu sangat ingin bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya. Ia juga ingin mandi di sungai seperti anak-anak lain. Ia sudah sangat bosan dan jenuh dikurung di dalam rumah.

Sang Petinggi teringat dengan pesan Dewa ketika menerima anak itu. Maka ia dan istrinya bersama seluruh penduduk Dusun Jaitan Layar mempersiapkan Erau. Dalam pesta Erau itu digelar upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian. Upacara Erau berlangsung sangat meriah selama empat puluh hari empat puluh malam. Sesuai petunjuk Dewa, Petinggi menyembeli bermacam-macam binatang dan beberapa orang untuk diinjak kepalanya oleh Aji Batara Agung pada upacara Tijak Tanah.

Bepelas Sultan
Dalam upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian, Aji Batara Agung diarak dan kemudian kakinya dipijakkan pada kepala-kepala binatang dan manusia yang telah diselimuti kain kuning. Kemudian Aji Batara Agung diselimuti dengan kain kuning, lalu diarak ke tepian sungai. Di tepi sungai, Aji Batara Agung dimandikan, kakinya dipijakkan pada besi dan batu. Semua penduduk Jaitan Layar kemudian turut mandi, baik wanita maupun pria, baik orang tua maupun orang muda. Setelah selesai upacara mandi, maka khalayak mengarak kembali Aji Batara Agung ke rumah orang tuanya, lalu memberinya pakaian kebesaran. Setelah itu mereka mengarak kembali Aji Batara Agung ke halaman dengan dilindungi payung agung, diiringi dengan lagu gamelan Gajah Perwata dan bunyi meriam Sapu Jagat.

Sesaat kemudian, tiba-tiba dentuman suara guntur yang sangat dahsyat menggoncang bumi disertai dengan hujan panas turun merintik. Kejadian itu tidak berlangsung lama. Cahaya cerah kembali menerangi alam, awan di langit bergulung-gulung seakan-akan memayungi penduduk yang sedang mengadakan upacara di bumi. Penduduk Jaitan Layar kemudian menghamparkan permadani dan kasur agung, lalu membaringkan Aji Batara Agung di atasnya. Gigi Aji Batara Agung pun diasah kemudian diberi makan sirih. Selesai upacara tersebut, pesta Erau pun dimulai. Berbagai makanan dan minuman disediakan untuk penduduk. Bermacam-macam permainan dipertunjukkan. Laki-laki dan perempuan menari silih berganti. Juga tidak ketinggalan diadakan adu binatang. Keramaian ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dengan tidak putus-putusnya. 




Setelah pesta Erau selesai, semua bekas balai-balai yang digunakan dalam pesta ini dibagi-bagikan oleh Petinggi kepada penduduk yang melarat. Demikian pula, semua hiasan-hiasan rumah oleh istri Petinggi diberikan kepada penduduk. Para undangan dari berbagai negeri dan dusun, berpamitan kepada Petinggi dan Aji Batara Agung Dewa Sakti. Mereka memuji-muji Aji Batara Agung dengan berkata, “Tiada siapa pun yang dapat menyamainya, baik rupanya yang tampan maupun sikapnya yang berwibawa. Patutlah dia anak dari batara Dewa-Dewa di khayangan.” Setelah berpamitan, para undangan kembali ke negeri dan dusunnya masing-masing untuk mencari nafkah sehari-sehari.

Sementara itu, Aji Batara Agung Dewa Sakti makin hari makin dewasa. Ia tumbuh menjadi remaja yang gagah, tampan, cerdas dan berwibawa. Ia kelak akan menjadi Raja pertama dari kerajaan Kutai Kartanegara. Setelah mencapai usia dewasa, tibalah saatnya Aji Batara Agung Dewa Sakti diangkat menjadi raja Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Marta Dipura yang pertama (1300-1325). Saat ia diangkat menjadi raja, Erau kembali diadakan dengan meriah. Sebagai raja pertama, maka Aji Batara Agung Dewa Sakti dianggap sebagai nenek moyang raja-raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura. 

Setelah menjadi raja, Aji Batara Agun Dewa Sakti menikah dengan seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Karang Melenu. Konon ceritanya, Putri Karang Melenu juga merupakan titisan Dewa dari Kahyangan. Awalnya, ia adalah ulat kecil yang ditemukan oleh seorang Petinggi Hulu Dusun di daerah kampung Melanti dekat Aliran Sungai Mahakam (*baca Asal Mula Naga Erau).

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More