Powered By Blogger

Selasa, 07 Desember 2010

KAMUS BAHASA KUTAI KOTA BANGUN

Mungkin catatan kosa kata bahasa kutai kota bangun yang saya tulis ini masih sangat kurang dan jauh dari lengkap. Tapi semoga saja ini bermanfaat bagi kalian yang ingin mempelajari bahasa melayu kutai kota bangun (mqg).

Bahasa Indonesia
Bahasa Kutai Kota Bangun (mqg)


Ada
ade
Adik
adek
Air
-Ranam (air), berenam (ber-air),
-ranam mata (air mata), peranaman mata (mata ber-air)
-ranam kameh / hereng (air kencing)
alot
kattul
Aku
aku, nyawa
Ambil
-Alak (ambil)
-kabbet (pungut)
-jeput (mengambil/memungut dengan ujung-ujung jari)
-mehonjo (gerakan berusaha mengambil/menggapai sesuatu yg tinggi/jauh)
-puttik (memungut, petik,,.. "angkat" contoh: putikki ampek! artinya angkat jemuran!)
-meraup
Anak
Anak, ngkanak (anak-anak)
Anak kecil
Kanak halus
Angkat
angkit
Anjing
koyok
Apa
Apa
Api
Api
Asik
Asek
Ayam
manok
Ayam hutan
Manok sakan
Babi
Beii
Baca / membaca
Beca / meca
Bagaimana
Tagek-apa, tagek-mana, cemapa, cemana
Baju
Beju
Bakar/membakar
-Tunu (bakar), nunu (membakar), Ketunuan (kebakaran)
-cocol (bakar)
-mumpun (mngumpulkan sampah2 kayu dsb. Lalu dibakar)
-nimbun (menyalakan api, contoh; nimbun obor = menyalakan obor)
-beretus (membakar ikan), jukut beretus (ikan bakar)
bangun
mingat
banjir
Lalap
bantu
Tulung, nulungi (membantu), betulungan (saling membantu)
baring
bering
Bapak
bepak
belakang
Blekang, dudi, buritan
belum
belum
benar
Beneh, bujjur
Beol
behera
berangkat
tulak
bercanda
Begeden
berapa
berepa
Beri / serah
Beri / ancung
Bersetubuh
Be-kanyek, be-saki, be-jentan (untuk binatang)
besar
Pore, besek (menyatakan ukuran/sebesar=besek)
Besi, baja
Wasi, waje
besok
Mpagi
betis
Tloran, kloran
bibir
Beber
bicara
Ncarang / ngabeb / ngecaca
Bikin / buat
Polah / molah
bingung
kammak
bodoh
Hali, bodo
bohong
Jinaka, naka
boleh
kawa
Bosan / lelah
kepai
bukan
lain
busuk
bonto
Cabe / Lombok / sambal
Cabe, pirik cabe (sambal ulekan), sanga cabe (sambal goreng)
cacing
kereme
Canda
Geden/begeden, gurau/begurawan
capek
Lohai (capek dalam arti letih), kepai (capek dalam arti bosan)
celana
slawar
cengeng
berres
cepat
ancap
coba
Tarai, cobe
cuci
Tappas, besoh
curiga
meramma
dagu
jengking
Danau
kanohan
Dangkal
tuhur
Dapur
Jorok
Datang
Detang,   #datang tak diundang = nyerawen
Dayung
Ollah, ngollah (mendayung)
Dekat
parak
Dengan
kan
Depan
Hadepan, muka’, luan
Dia
iye
Dimana
mana
Dingin
callap
Disana / disitu
Saneh / sittu
dompet
kappek
Dungu
krongo
durian
drien
Elang
Bunia, benaul
Enak
nyaman
Enek / gak nafsu
nyalor (enek), sampul (sudah gak nafsu lagi)
Garuk
Gogot, geges
gendong
ambek
gerimis
renes
geser
Esot, geser
gigit
-Gigit,
-geropang
-papak/mapak (menggigit sesuatu yg keras)
-gius
-ngenyai (mengunyah)
goreng
Sanga
goyang
Goyak, inggut
hamil
ngidem
handuk
tuala
hari
Hari / ari
hati
hati
Hati-hati / awas
Jege, jege yoh
hujan
-Hujen (hujan), renes (gerimis), hujen tapas (hujan lebat)
-Tias (hujan sudah reda)
ibu
Ame, demmek, mamak
ikan
jukut
Ikan asap
salai
Ikan asin
Pije
Ikan bakar
Jukut bretus
ikut
umpat
ingat
ingat
injak
Tijek, tinjek, jejjek
itu
Tu, ngia, ngintu
iya
au , he’e~, ho’o~
jahe
lia
Jahil (suka iseng)
Jelek   #menjahili = njelekki
jalan
Jelan, nonjek (berjalan kaki)
jangan
ntik
jari
jerigi
jauh
jeuh
juga
Jugge, ge, gin
Juriat/keturunan
purus
kabar
haber
kain
Kain, ampek
kakak
kakak
kakek
Anek laki
kaki
betis
Kaki gajah (penyakit)
behuntut
kalau
Amun, mun
kalian
kitta
kamu
Kauu, kula, kitta (u/ yg lebih tua)
kanan
kanan
kecil
Halus, kucit
kejar
Uyung, umbe
kelereng
gulik
keluar
kluar
keluarga
Kula / kluarge
kemana
Mana, pagimana
kemarin
Mari, marintu
kembar
Gember
kemiri
prijek
kenapa
nuapa
kerbau
krabbeu
kiri
kiwa
kita
etam
koreng
Kuris, kropeng
kotor
Mrotak, kolot, kohap, kodel
kuali
Sogon
kucing
koceng
kukus
sumap
Kunyah / mengunyah
Kenyai /  ngenyai
kupas
Kopek, pese (mengupas dgn pisau)
kurus
Koros, rengkeng
labu
lauu
ladang
Huma, behuma (berladang)
Lahir
Lahir, berenak (melahirkan)
laju
Sorong, mlasit, laju
lama
Lawas, jenang
Lari / berlari
bluncat
Lele/ ikan lele
Kalli, panang
Lempar
Tabek, ambung (melempar ke atas)
lengket
Jekat, krepet
Lepas / melepas
Lapi / mlapi
Liar
lias
lihat , melihat
-Telek , nelek (melihat), nde nelek (tidak melihat)
-Tenong, Nenongi (menatap), betenongan (saling bertatapan)
-Crangat, Ncrangati (melihat, mengarahkan wajah ke sesuatu yang ingin dilihat, dalam artian focus pada objek)
Loncat
blencok
lupa
pipat
lutut
litut
makan
-makan, mekko (sarapan)
-bentas/mentas, rojek/mrojek, majoh (bahasa kasarnya)
-nyongam (gerakan mulut memakan; memasukan makanan ke mulut)
-melangok (menelan bulat-bulat)
malas
Milai, kaccut, wadei
mampu
kehe
mancing
Mappas
mandi
mandi
manja
monjek
marah
mose
masuk
tama
mata
mata
mati
Mati, ninggel, joleh
mau
Handek
meleleh
mole
melorot
Te’oloi
menoleh
Mlengah
menyeberang
Nyumerang
merah
habeng
merajuk
Sola
mereka
Side, hide
merenung
merangot
merica
sahang
milir
Behenyut
minum
-Minum, logoh (bahasa kasarnya)
-naggok (meneguk).
-mehirup (meminum dgn diseruput)
-melangok (menelan bulat-bulat)
miring
Mereng
monyet
Kode
mulut
Sungut ,   #gerakan membuka mulut dgn lebar = mrongap
nama
Nama
nenek
Anek bini
Ngantuk
ngantok
Ngejek / ngolok
Ngacak, meholot
Ngesot
kesor
ngidam
peliuran
ngomel
beran
nguap
ngoap
nyasar
sasat
obat
uwat
ompong
Rompong
orang
Urang
pagi
Hambet
pamali
Tuhing
paman
Busu, tua (yg lebih tua dari bpk/ibu kita)
panas
Marrang / lattat
panci
Cangkok, kenceng (panci untuk memasak nasi)
panu
Panau
parah
Parah, Mahut (terlalu), behas (sangat sekarat penyakit / terlalu berlebihan)
pegang
Koyot, jewat
pelan
-Onyot/beronyot, gemat/begemat/begematan
-kelelet (lambat sekali, Lalai)
peluk
ragep
pepes
pais
perahu
gubeng
pergi
paggi
pernah
Suah, mrasa
pingsan
Siup . tanjel
piring
pinggen
pisau
Lading, pisau (pisau untuk meraut n mengukir), lobok
pohon
Puhun
pondok
Pondok, lappau
potong
Potok, tattak
pukul
-Jegur (dgn kepalan tgn)
-tapek (dgn telapak tangan atau dgn benda yg pipih, contoh; dgn raket atau bed)
-papal (kebanyakan dgn benda, contoh; dgn balok kayu)
-habbes (dgn benda yg tidak keras, contoh; dgn kain sarung)
-Lepat (dgn benda, seperti gerakan mencambuk)
-hampas/mehampas (menghempas), behempas (berhempas)
-sontol (memukul bagian atas kepala dgn kepalan tangan)
-catok/ncatok (memukul bagian atas kepala dgn kepalan tangan)
pulang
Mullang, belik (kembali)
pusing
Ngalu
Putar / berputar
Putar, Pusing (berputar seperti gasing)
putus
paget
Rindu / kangen
Jonok, breii (rindu yg berlebihan)
robek
Carek, rabit, rantas (jahitan yg robek)
roboh
Loros
rumah
Rumah
Rusak / hancur
-rusak, hancur
-blerai (rusak menjadi berhamburan)
-tebo
-pira (isi buah yg dirusak hama)
-mayan (singkong yg sudah tidak segar; rusak)
-bonto (busuk)
sampah
Rotok (sampah-sampah kecil)
sampai
Sampai,  matan, hantan, hinggen
santan
Patau,  #sayur bersantan = gengan blemmak
sarapan
Mekko (kata dasarnya “bekko”)
sarung
tajung
sebentar
Setumat, tumat
selesai
Pupus
selimut
kumut
sembunyi
Pukung
sempat
Hawat
sendok
sodo
seperti
Tagek, mrupa
sering
Nongkai, dedes
siang
Tangahari
siapa
Sapa
singkong
Jebeu, hubbi kayu
sore
Merian, sirap
sudah
Lah
suka
Ingin
sungai
Sungai, luah (anak sungai)
Sunyi / sepi
Siok, seniap
Surut / dangkal
Tuhur
Susah / sulit / sukar
Jereh, perehan (kesulitan), piasat (kewalahan)
Sutil
Penyogor
tabrak
Rumpak
takut
Takut, gaer/geer
Taruh/taroh
Andek, lentak, taroh
tau
Tahu
Tawa / ketawa
Tawa, nyeregeh, nyeremot (senyum)
tega
Ruttus
telinga
Telinga / kelinga
telur
tigu
teman
Kawan
tepung
glepung
Terasi
blecan
terbang
Trabbeng
teriak
Mrahung, mriak, mrageng
Terkejut
tekelijik
terlanjur
Copa
terlalu
Teralu/teraluan, mahut beneh,
Terik(panas terik)
Langat
Tidak , tidak ada
Inde , nade
Tidak karuan
Nde keruan, nde ngruan, nde pokan
Tidak usah
Nyugge, nde usah, ntik gin
tidur
Tidur, ndeloh (tidur di sore hari)
tombak
-pujek (tombak mata pipih dan lonjong; untuk berburu dll.)
-serapang (tombak mata tiga)
-tiruk (tombak runcing)
-breyang (tombak untuk menangkap buaya)
ular
Taddung
untuk
Kan, cager
wajah
Muha
yang
Ye

Banyak istilah-istilah dalam Bahasa Kutai pada umumnya (Bahasa Kutai Kota Bangun pada khususnya) sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dan ada beberapa kata-kata hiasan kalimat yang apabila digunakan pada kalimat-kalimat tertentu akan memiliki arti yang berbeda. Dengan nada bicara yang berbeda juga dapat menimbulkan arti yang berbeda.
Beberapa kata yg merupakan hiasan-hiasan kalimat dalam percakapan Bahasa Kutai Kota Bangun. Seperti;
Kata “hak”, “leh”, “lang”, “gin” (kata-kata ini semacam penegasan dalam kalimat).

contoh:
“makan hak” artinya “makan saja” (kalimat perintah)
“alak hak tu di atas lemari” artinya “silahkan ambil saja di atas lemari” (kalimat perintah)
*kebanyakan “hak” di gunakan dalam kalimat yg mengandung perintah.
sedangkan “leh” merupakan hiasan kalimat.

“apa lang..?” artinya “memangnya kenapa?” ( kata “lang” dalam kalimat ini mengadung “pertanyaan”)
“kau lang nde mau..” artinya “kamu sih gak mau” (kata “lang” dalam kalimat ini semacam penegasan; “sih”)
“beneh lang?” artinya “betulan kah?” ( kata “lang” dalam kalimat ini mengadung “pertanyaan”)

“aku gin” artinya “aku juga”
“aku gin mia ge” artinya “aku juga seperti itu” ( kata “gin” dalam kalimat ini mengandung arti “juga”)
“nde usah gin” artinya “tidak usah aja” (kata “gin” dalam kalimat ini mengandung perintah)

Kata “LOPAT”
kata “lopat” digunakan seperti kata “astaga” dalam Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Kutai di sebut “telet”/”betelet”.
“telet” sendiri ada beberapa macam, seperti:
-Lopat
-Opat
-lopay
-opay
-Lopet
-Opet
-Loset
-Lokos
-Lenas (bhsa muara ancalong)
-Empus (bhsa sengata) dll.

SEMOGA BERMANFAAT…. ^_,^

Ratu Aji Bidara Putih dan tentara lipan

Kecamatan Muara Kaman (Kalimantan Timur) terletak di tepi aliran sungai Mahakam. Jaraknya cukup jauh dari kota Samarinda. Keadaan perkampungannya terdiri dari rumah-rumah papan yang sederhana. Di wilayah ini beredar sebuah cerita legenda yang amat dikenal oleh penduduk. Kisah tentang seorang ratu yang cantik jelita dengan pasukan lipan raksasanya.

Dahulu kala negeri Muara Kaman diperintah oleh seorang ratu namanya Ratu Aji Bidara Putih. Ratu Aji Bidara Puthi adalah seorang gadis yang cantik jelita. Anggun pribadi dan penampilannya serta amat bijaksana. Semua kelebihannya itu membuat ia terkenal sampai di mana-mana; bahkan sampai ke manca negara. Sang Ratu benar-benar bagaikan kembang yang cantik, harum mewangi. Maka tidaklah mengherankan apabila kemudian banyak raja, pangeran dan bangsawan yang ingin mempersunting sebagai istri.

Pinangan demi pinangan mengalir bagai air sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir. Namun sang Ratu selalu menolak. “Belum saatnya aku memikirkan pernikahan. Diriku dan perhatianku masih dibutuhkan oleh rakyat yang kucintai. Aku masih ingin terus memajukan negeri ini,” ujarnya.

Kemudian pada suatu hari muncullah sebuah jung atau kapal besar dari negeri Cina. Kapal itu melayari sungani Mahakam yang luas bagai lautan. Menuju ke arah hulu. Hingga akhirnya berlabuh tidak jauh dari pelabuhan negeri Muara Kaman.

Penduduk setempat mengira penumpang kapal itu datang untuk berdagang. Sebab waktu itu sudah umum kapal-kapal asing datang dan singgah untuk berdagang. Akan tetapi ternyata penumpang kapal itu mempunyai tujuan lain.

Sesungguhnya kapal itu adalah kapal milik seorang pangeran yang terkenal kekayaannya di negeri Cina. Ia disertai sepasukan prajurit yang gagah perkasa dan amat mahir dalam ilmu beladiri. Kedatangannya ke Muara Kaman semata-mata hanya dengan satu tujuan. Bukan mau berdagang, tetapi mau meminang Ratu Aji Bidara Putih!

Kemudian turunlah para utusan sang Pangeran. Mereka menghadap Ratu AJi Bidara Putih di istana negeri. Mereka membawa barang-barang antik dari emas, dan keramik Cina yang terkenal. Semua itu mereka persembahkan sebagai hadiah bagi Ratu Aji Bidara Putih dari junjungan mereka. Sambil berbuat demikian mereka menyampaikan pinangan Sang Pangeran terhadap diri Ratu Aji Bidara Putih.

Kali ini sang Ratu tidak langsung menolak. Ia mengatakan bahwa ia masih akan memikirkan pinangan Sang Pangeran. Lalu dipersilakannya para utusan kembali ke kapal. Setelah para utusan meninggalkan istana, Ratu memanggil seorang punggawa kepercayaannya.

“Paman,” ujarnya, “para utusan tadi terasa amat menyanjung-nyanjung junjungannya. Bahwa pangeran itu tampan, kaya dan perkasa. Aku jadi ingin tahu, apakaah itu semua benar atau cuma bual belaka. Untuk itu aku membutuhkan bantuannmu.”

“Apa yang mesti saya lakukan, Tuanku?” tanya si punggawa.

“Nanti malam usahakanlah kau menyelinap secara diam-diam ke atas kapal asing itu. Selidikilah keadaan pangeran itu. Kemudian laporkan hasilnya kepadaku.”

“Baik, Tuanku. Perintah Anda akan saya laksanakan sebaik-baiknya.” Ketika selimut malam turun ke bumi, si punggawa pun berangkat melaksanakan perintah junjungannya. Dengan keahliannya ia menyeberangi sungai tanpa suara. Lalu ia melompat naik ke atas geladak kapal yang sunyi. Dengan gerak-gerik waspada ia menghindari para penjaga. Dengan hati-hati ia mencari bilik sang pangeran. Sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.

Pintu bilik yangsangat mewah itu tertutup rapat. Tetapi keadaan di dalamnya masih benderang, tanda sang pangeran belum tidur. Si punggawa mencari celah untuk mengintip kedalam, namun tidak menemukan. Maka akhirnya ia hanya dapat menempelkan telinga ke dinding bilik, mendengarkan suara-suara dari dalam.

Pada saat itu sebenarnya sang Pangeran Cina sedang makan dengan sumpit, sambil sesekali menyeruput arak dari cawan. Suara decap dan menyeruput mulutnya mengejutkan sipunggawa. “Astaga.. suara ketika makam mengingatkanku kepada… kepada apa, ya?” pikir si Punggawa sambil mengingat-ingat. Kemudian si Punggawa benar-benar ingat. Pada waktu ia berburu dan melihat babi hutan sedang minum di anak sungai. Suaranya juga berdecap-decap dan menyeruput seperti itu. Ia juga teringat pada suara dari mulut anjing dan kucing ketika melahap makanan.

“Ah ya … benar-benar persis … persis seperti suara yang kudengar! Jadi jangan-jangan..” Tiba-tiba mata si punggawa terbelalak. Seperti orang teringat sesuatu yang mengejutkan. Hampir serentak dengan itu ia pun menyelinap meninggalkan tempat bersembunyi. Ia meninggalkan kapal dan cepat-cepat kembali untuk melaporkan kepada Ratu Aji Bidara Putih.

“Kau jangan mengada-ada, Paman,” tegur Ratu setelah mendengar laporan punggawa itu.

“Saya tidak mengada-ada, Tuanku! Suaranya ketika makan tadi meyakinkan saya, ” kata si punggawa.
 “Pangeran itu pasti bukan manusia seperti kita. Pasti dia siluman! Entah siluman babi hutan, anjing atau kucing. Pokoknya siluman! Hanya pada waktu siang ia berubah ujud menjadi manusia! Percayalah Tuanku. Saya tidak mengada-ada..”

Penjelasan si punggawa yang meyakinkan membuat Ratu Aji Bidara Putih akhirnya percaya. Tidak lucu, pikirnya, kalau ia sampai menikah dengan siluman. Padahal banyak raja dan pangeran tampan yang telah meminangnya. Maka pada keesokan harinya dengan tegas ia menyatakan penolakannya terhadap pinangan pangeran itu.

Sang Pangeran amat murka mendengar penolakan Ratu Aji Bidara Putih. Berani benar putri itu menolaknya. Dalam kekalapannya ia segera memerintahkan pada prajuritnya untuk menyerang negeri Muara Kaman.

Para prajurit itu menyerbu negeri Muara Kaman. Kentara bahwa mereka lebih berpengalaman dalam seni bertempur. Para prajurit Muara Kaman terdesak, korban yang jatuh akibat pertempuran itu semakin bertambah banyak. Sementara para prajurit suruhan sang pangeran makin mendekat ke arah istana.

Ratu Aji Bidara Putih merasa sedih dan panik. Namun kemudian ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengheningkan cipta. setelah itu ia mengunyah sirih. Kemudian kunyahan sepah sirih digenggamnya erat-erat. Lalu berkata, “Jika benar aku keturunan raja-raja yang sakti, terjadilah sesuatu yang dapat mengusir musuh yang sedang mengancam negeriku!”

Serentak dengan itu dilemparkannya sepah sirih itu ke arena pertempuran… dan , astaga..lihatlah! Tiba-tiba sepah sirih itu berubah menjadi lipan-lipan raksasa yang amat banyak jumlahnya! Lipan-lipan yang panjangnya lebih dari satu meter itu segera menyerang para prajurit Pangeran Cina. Para prajurit itu menjadi ketakutan. Mereka lari tunggang-langgang dan kembali ke kapal.

Tetapi lipan-lipan itu tidak berhenti menyerbu. Tiga ekor lipan raksasa mewakili kelompoknya. Mereka berenang ke kapal, lalu membalikkannya hingga kapal itu tenggelam beserta seluruh penumpangnya dan isinya… Tempat bekas tenggelamnya kapal itu hingga kini oleh penduduk Muara Kaman disebut Danau Lipan. Konon, menurut empunya cerita, dulu di tempat ini sesekali ditemukan barang-barang antik dari negeri Cina.

Rabu, 01 Desember 2010

LEGENDA PUTRI SILU LARI KEPUSAT AIR MEMBAWA TUAH NEGERI MENDATANGKAN BENCANA KEMARAU PANJANG DI KUTAI


DIKISAHKAN OLEH NEK ESAH ALIAS NEK MANANG WARGA DESA MUARA KAMAN ILIR

            Kisah ini dimulai dengan lantunan lagu yang disebut neroyong sebagai berikut :

Dinegeri kutai dulu hikatnya, Hiduplah kejuntaian di dunia longa, Bukanlah dewa lain manusia, Sebagai pemberi alamat sealam raya.

Tujuh saudara hidup rukun dan tentramya, Penjaga alam kutai yang kaya-raya, Sayus kakak yang paling tua, Orangnya pintar pandai bahasa.

Songo kakak yang kedua, Orang kuat baik hatinya, Tapi saying bodoh orangnya, Hingga menjadi cerca para saudara.

Silu kakak ke tiga cantik molek parasnya, Selalu membawa tuah pada manusia, Negeri kutai ditinggalkannya, Karma takut besahu dengan kakak tertua

 Sirumbai kaca kakak kempatnya, Sipatnya santun dan bersahaja, Tulus hati pemberi semengat hidup manusia, Karma memberi tidak mengarap apa-apa.

Rumbai nenang kakak kelima,  Jujur hati penyejuk jiwa, Banyak orang kagum padanya, Sopan santun tutur bahasanya.

Sinaning kakak keenam yang susah hidupnya, Orangnya sabar  tegar  hatinya, Pemelihara semengat hidup didunia, Sangat arif dan bijaksana.

Sentanglah yang paling bungsu, Orangnya lugu serta pemalu, Tapi diasenang selalu membantu, Walaupun dia ditinggalkan ibu.

Tujuh saudara hidup bersatu, Dalam tugas bahu membahu, Jadi Alamat pastilah tentu, Kepada mahluk hidup diberitahu.

            Cerita ini dikisahkan pada suatu hari terjadilah, hal yang memalukan, yang disebut sahu (tabu) karna perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh orang yang bersaudara kandung, kejadiannya takala terjadi hujan lebat dan atap rumah mereka mengalami kebocoran sehingga Sayus naik keatap rumah dan melihat adiknya Silu sedang memasak di dapur, dan taah (Kain sarung) yang dipakai silu sedikit terbuka dan memperlihatkan lekuan tubuhnya yang memang tiada tara indahnya dan kulit yang putih kuning serta paras yang cantik membuat darah sayus berdebar jantungya dan timbulah napsu birahinya, niat jahat itu lah yang akhirnya menjadikan pertikaian antara adik dan kakak.

            Silu sudah mantap hatinya ingin berpisah dari saudara-saudaranya maka dibuatlah lanting besar (rakit) dari haur kuning (bambu kuning), dan lengkap dengan perbekalan harta pusaka serta manok sakan betina, (ayam hutan) kesayangan saniang jangkat dibawanya pula menurut cerita ayam ini lepas persis di Muara Kaman yang meninggalkan telur di gua bukit berubus, karena terburu-buru Silu lupa mengambil telur ayam tersebut hingga saniang jangkat mendatangkan bala (bencana), kemarau panjang saniang hanya mau menghilangkan sumpahnya jika ada binatang yang sanggup menetaskan telur tersebut. Dalam hikayat lain diceritakan bahwa hanya seekor lembulah yang dapat mengerami telur tersebut sehingga menjadi batu lembu tersebut kemudian dinamai lembu ngeram.

            Sejak meninggalkan kampong halamanya silu menyusuri sungai mahakam, dan Sayus merasa bersalah sehingga di suruh oleh para saudaranya agar membawa adiknya kembali, karena Silu enggan lagi tinggal bersama dia tidak mau pulang, maka berbagai rintangan di buat untuk menghambat kepergian silu diantaranya di buat ulak Besar di Muara Kaman, Ulak Yupa beserta Pulaunya dan tiga pulau lainya yakni Pulau Kumala di Tenggarong dan Pulau Jerang di Jembaian tanahnya di ambil dari Gunung Betutu dan Gunung Malang di Senoni dan di muara sungai Mahakam ditanami bakau namun semua itu berkat kesaktian dan tuah silu dapat melanjutkan perjalananya sampai ke pusat air (Samudra Indonesia sekarang) yang berada selatan Pulau Jawa menurut cerita ini Putri Silu dikabarkan ditangkap oleh Raja Naga penguasa laut pantai selatan Jawa dan akhirnya menjadi penguasa pantai selatan maka silu sering memberikan tuah pada rakyat di sekitar pantai selatan, apakah Putri  Silu adalah Ratu Segoro Kidul saya bertanya dan dijawab Allahualam Bin Sawab kehendak tuhanlah yang akhirnya membuat negeri di Jawa itu dibangun dari hasil alam dan bumi Kutai yang kaya karena, adapula sumpah raja kutai apabila anak cucuku melewati batas wilayah selatan tanah Jawa maka tuah dan kesaktiannya akan hilang di ambil oleh Putri Silu.

            Sepeninggal Putri Silu, negeri kutai semakin kacau, Sayus dikabarkan lari ke daerah perbatasan Balikpapan dan Panajam di Pasir sekarang disana dijumpai gua yang digambari silu dengan alat kelamin peria dan wanita entah apa sebabnya itulah tanda penyesalanya yang digambarkan Sayus akibat perbuatannya semua makluk hidup di kutai mendapatkan bala (bencana).

            Lain lagi sungai mahakam yang besar dan dalam airnya hampir kering karena kemarau panjang membuat bangsa para binatang ambil bagian dalam babak cerita ini. Ditengah kegelisahan makluk hidup dikutai hanya berharap semoga kejadian ini cepat berlalu, dalam dongengnya Dongengya Nek Esah bercerita tentang perilaku para binatang pada waktu itu, para binatang dikumpulkan guna membahas masalah apa yang sebenarnya terjadi Raja segala binatang mengadakan pertemuan di Udara rajanya burung Bunia atau Rembewang (Raja Wali) lajim disebut Burung Garuda, di hutan dikuasai Remaong (Singa) dan di Air dikuasai Ikan Pesut (Lumba-Lumba) entah bagaimana Cuma cerita ini dikisahkan akhirnya banyak para binatang yang mendapat hukuman seperti, Bebek di hukum tidak bias terbang jauh gagal mengerami telur Sakan dan Burung Coek dihukum mencari makan hanya di malam hari karma dalam mencari Silu dialakukan hanya malam hari,serta Tikus menggali tanah pada waktu disuruh Sayus membuat tiga pulau maka seumur hidupnya dihukum menggali tanah, sedangkan Burung ketinjau (Kutilang), dianugerahi sumpah apabila manusia memakan daginya akan terjangkit penyakit kodong (Kudisan), dan diberi suara yang merdu karena dilah yang menijau dan memberitahukan bahwa sebab terjadinya kemarau oleh perbuatan Sayus ingin bersahu kemudian telur manok sakan (ayam hutan) kesayangan saniang jangkat dierami lembu sampai jadibatu, cerita ini kemudian menjadikan mistik batin Lembu Ngeram menjadi Lambang Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman.

            Pertemuan Putri silu dengan utusan dari Kutai, siapa gerangan yang menemui silu, Nek Esah menjawab alkisah seekor Kupu-kupu meminta persetujuan Saniang apabila dirinya berhasil menemui si Putri Silu maka dia meminta apabila kemarau sudah berhenti dan pohon serta tanaman lain berbunga maka bangsanyalah yang harus mencicipi terlebih dahulu sari-sari madu dari bunga-bunga tersebut, dan permintaanya dikabulkan oleh Saniang, dan berangkatlah kupu-kupu menuju pusat air, sesampainya di tepi laut kupu-kupu menaiki buyah air (Gelembung Air), hingga berbulan bulan kupu-kupu mencari Putri Silu dan akhirnya pertemuan itulah kupu-kupu menerima pesan Putri Silu agar disampaikan kepada makluk hidup di kutai, bahwasanya dirinya tidak dapat kembali lagi dan dia memberikan alamat bahwa apabila manusia ingin mendapatkan tuah maka buatlah Saniang Ayu sebagai perlambang batinku dan aku akan datang tanpa dilihat mata dan akan memberikan padah bagi ganjaran hubungan antara alam gaib dan kehidupan nyata manusia di kutai.

Kajian Mistik Ilmiahnya yang kita dapat dari cerita ini antara lain. Bahwa tiang ayu adalah penghubung alam gaib dan kehidupan nyata inilah yng terjadi disetiap Erau bahwa dimulai dengan mendirikan ayu dan diakhiri dengan merebahkan ayu, agar dapat mendatangkan tuah bagi negeri kutai.

Selogan lambang Kerajaan Kutai Martapura adalah “TUAH EMBA ARAI’ yang mengadung arti dan makna sebagai berikut :

            Tuah adalah sesuatu yang bermanfaat dapat disebut ilmu, atau kekuatan dan kesaktian seseorang, bahkan suatu keberuntungan karma dalam keseharian orang kutai selalu menyebut “mudah mudahan anaku beuntung betuah” atau jika anaknya mendapat sesuatu yang dapat membanggakan orang lain dan keluarganya maka orang kutai menyebutnya “andok anak beuntung betuah” itulah semacam kebanggaan dan penghargaan pada sang anak.

            Emba artinya mencari alas an untuk hidup dimana manusia harus berusaha mencari sesuatu yang dijadikan bekal hidup yang lebih baik, dalam hidup dan mati manusia harus meninggalkan hal yang berguna bagi dirinya, keluarga, dan bangsanya, karena hidup ini harus dipenuhi dengan nafkah menutut ilmu maupun nafkah secara batin.

            Arai artinya menciptakan sesuatu karya yang bermanfaat bagi kehidupan baik keluarga maupun bermasyarakat sehingga dihargai, adapun karya itu berbagai hal menyangkut kehidupan manusia di dunia dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Mengenai lambang Kerajaan Kutai Martapura adalah “LEMBU NGERAM’ yang mengadung arti dan makna secara yogini menurut ritus agama hindu aliran siswatis yang dianut oleh para raja-raja kutai jaman dahulu sebagai berikut :

Telur Sakan adal lambang cikal bakal keturunan yang melahirkan raja-raja dari keturunan orang yang dihargai dan di hormati serta dianggap sakti dan berdarah peri, karma hanya orang berdarah bangsawanlah yang boleh menjadi raja.

Wujud lembu ngeram di gambarkan berbadan binatang lembu (sapi atau kerbau), bersayap rembewang, berkepala dan berparuh serta bermahkota tumbau, berkuku sakan, artinya :

Badan lembu, adalah seorang raja harus memiliki jiwa raga baik jasmani maupun rohani yang suci dan tulus serta iklas seperti lembu tunggangan batara guru yang iklas membawanya kemana pergi dalam memberikan petuah pada umatnya  lambang dewa batara guru inilah menjadi dasar-dasar falsafah penegak derajat hidup kaum bangsawa dalam mengaromi rakyatnya.

Bersayap rembewang artinya rembewang adalah gaganeswara seekor burung yang dapat menjangkau bumi, air, laut, dan angkasa dalam menegakan kekuasan dan dapat menaungi wilayah kekuasannya artinya raja dapat menjaga ketentraman hidup rakyat disegala penjuru wilayah kekuasaanya.

Berkepala, berparuh dan bermahkota tumbau, artinya raja itu mempunyai kepandaian dengan berdiplomasi raja dapat menundukan lawanya, karma itu titah atau sabda raja adalah hukum bagi kaula dan rakyatnya, dan mahkota tumbau adalah lambang dewa kresna yang memiliki keagungan budi pekerti dan kepandaian serta sebagai dewa pemelihara alam.

Berkuku sakan, artinya kekuatan raja dalam menegakan hukum dan aturan, adalah senjata dalam mempertahankan kekuasaan serta melindungi rakyatnya.

Begitula mistis yang terkandung dalam cerita legenda tersebut, mengenai berbagai persoalan terjadi di negeri kutai sejaman itulah kerajaan ini telah pula dikenal sampai ke luar negeri bahkan kerajaan kutai ini berkuasa selama 1255 tahu lamanya, hingga Negara kerajaan ini menjadi Negara kerajaan pertama di Nusantara. Berdirinya ayu dan rebahnya ayu mengandung arti dan makna bahwa upacara tersebut memiliki awal dan akhir, serta upacara besawai menjamu, merangin,  berarti upacara ini mempunyai wawasan luas menghormati semua kemumulan, kejuntaian, serta pengalasan yang ada ditanah Kutai pada zaman dahulu.

(dikutip dari tulisan: Maharaja Kutai Mulawarman)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More